Welcome Myspace Comments

Senin, 02 Juli 2012

Bunuhlah Aku yang Mencintaimu


Aroma darah segar menyebar dengan cepat memenuhi udara. Puluhan tubuh terkapar tak berdaya, tak lagi bernyawa. Mereka adalah keluarga Ruzy yang terkenal sebagai keturunan ksatria. Sebuah keanehan besar jika ada yang bisa membantai Airiho Ruzy, pemimpin klan yang terkenal tangguh beserta keluarga dan para pengikutnya.
Seorang gadis cantik berdiri di hadapan Airiho. Matanya menatap dengan tajam, mata penuh dendam. Wajah dan pakaiannya penuh dengan darah. Sebilah pedang teracung di tangannya. Tak lama kemudian ia mencium pedang itu dan menyarungkannya. Pandangannya beralih kepada seorang lelaki paruh baya, pengikut setianya.
“Putra sulungnya tidak di sini. Airiho mengirimnya ke ibukota sejak kecil. Apa yang harus kita lakukan, Nona?”
“Ibukota? Ia bekerja di kerajaan?”
“Sepertinya, Nona. Mungkin ia bekerja di kemiliteran kerajaan.”
“Aku akan mencarinya dan kemudian menantangnya bertarung. Seperti ayahnya, ia akan mati di tanganku.” Jawab gadis itu sambil menatap tangannya yang berlumuran darah. “Airiho memulai dendam ini kembali, maka aku akan menyelesaikannya.”
Lalu ia berbalik dan meninggalkan tempat itu.
*       *      *
Ia melangkah menyusuri jalanan kota. Matanya yang tajam memandang ke sekelilingnya. Tak satupun orang yang tak tertarik menatap parasnya yang elok dan tubuhnya yang indah. Namun mereka akan tertunduk seakan kekuatan mereka terserap ketika melihat tatapannya. Apalagi pedang panjang menggantung di punggungnya. Tidak sedikit yang tahu kalau pengguna pedang sepanjang itu pasti memiliki ilmu pedang tingkat tinggi.
Gadis itu adalah Sanina, keturunan terakhir klan Idaga. Semua orang tahu kalau klan Ruzy dan Idaga telah berseteru sejak berabad-abad yang lalu. Mereka menjadi musuh besar. saling serang dengan cara apapun. Tanpa peraturan tertulis, keturunan-keturunan mereka memiliki tanggungjawab penting untuk menghancurkan musuh mereka. Lambat laun keturunan masing-masing klan semakin mengerucut hingga tinggal masing-masing satu keluarga, Airiho Ruzy dan Bazeil Idaga, ayah Sanina.
Mengingat tak ada lagi keturunan lain, masing-masing dari mereka setuju tanpa sepakat untuk mengurangi kadar perseteruan mereka. Tak pernah lagi terjadi pembunuhan antar keturunan klan. Namun dendam masih membara di antara mereka. Pemeliharaan tradisi saling serang tergantikan oleh para pengikut mereka. Sayang, beberapa tahun yang lalu terjadi insiden yang menghilangkan nyawa Bazeil dan seluruh anggota keluarga Sanina lainnya.
Sanina menatap ke arah sekelompok tentara kerajaan yang sedang membuat keributan di sebuah kedai. Entah apa yang merasukinya, tiba-tiba ia mencabut pedangnya dan menyerang para tentara itu. Sekejap saja, hanya sekejap, ia telah membunuh hampir semuanya, kecuali hanya seorang yang sudah tak berdaya. Tentara itu ketakutan dan mengacung-acungkan pedang patahnya dengan gemetar.
“Aku hanya ingin tahu, di mana orang yang bermarga Ruzy bertugas.”
“A, aku tak tahu. Ta, ta, tak ada nama seperti itu di, di, di kesatuan manapun.” Jawab tentara itu.
“Bohong! Ia adalah anak Ksatria Airiho Ruzy. Kau tak mungkin tak kenal!” Bentak Sanina seraya mengangkat pedangnya.
“Su, sungguh, a, a, aku ...”
“No, Nona, jika yang Nona maksud adalah Aleon Ruzy, mungkin hamba bisa memberitahu keberadaannya.” Kata pemilik kedai. Sanina menebas leher sang prajurit dan mengacungkan pedangnya pada pemilik kedai tadi.
Kemudian Sanina berjalan lemas meninggalkan kedai setelah mendengar informasi dari sang pemilik kedai. Langkahnya menuntun ia ke suatu tempat yang berbeda dari perkiraannya, bukan istana atau barak tentara. Ia menuju sebuah bukit bebatuan di pinggir kota. Sepertinya masih banyak lagi fakta di depannya yang tidak sesuai dengan bayangannya.
“Ada perlu apa, Nona?” Tanya sebuah suara ramah.
Gadis pendekar itu hanya melongo saja karena masih terkejut melihat pemandangan di depannya. Ada banyak lelaki yang sedang mengambil batu-batu dari bukit itu. Ia mendengar bahwa kerajaan sedang membangun sebuah candi yang besar untuk menghormati dewa. Batu-batu tersebut akan digunakan untuk bahan bangunan atau bahan patung dan arca.
“Aku mencari seseorang bernama Aleon, Aleon Ruzy.”
“Oh, anak itu. Aleon!” Pekik lelaki tersebut. Kemudian tidak terlalu jauh dari sana terdengar jawaban lelaki yang lain. “Ada yang mencarimu. Cepat kemari.”
Sanina melihat seorang lelaki muda berlari ke arahnya. Wajahnya tampan dan bersih, namun tidak menunjukkan kesan menyeramkan sedikitpun. Bahkan terlalu lembut. Perawakannya juga tidak kekar, melainkan sangat kurus untuk ukuran seorang lelaki. Sanina menatap tangannya yang sedang memegang palu, genggaman yang kokoh namun bukan genggaman ahli pedang. Hatinya bertanya, apakah ia anak Airiho Ruzy, pendekar pedang terkenal dari klan yang mengaku sebagai keturunan dewa perang. Yang anehnya, lelaki itu tak berbicara sepatah katapun dan juga hanya menatap Sanina dengan sangat lekat, persis seperti yang Sanina lakukan.
“Siapa namamu?” Tanya Aleon pelan, seakan tak terlalu berharap jawabannya.
Kemudian tanah bergetar. Semua orang panik dan berhamburan meninggalkan tempat itu. Hanya Sanina dan Aleon yang tak bergerak. Mereka masih menikmati kegiatan saling menatap seakan ada topik penting yang sedang mereka diskusikan, melebihi nyawa mereka.
Dan semua gelap.
*       *      *
“Hai, hai. Halo. Sudah sadar?”
Terdengar sebuah suara, seperti dari tempat yang sangat jauh. Sanina membuka mata, mencoba mengintip sumber suara itu. Seorang perempuan tua sedang tersenyum menatapnya. Segera Sanina terbangun dan duduk menjauhi perempuan itu. Kepalanya masih pusing dan rasa nyeri menyerang sekujur tubuhnya.
“Pelan-pelan. Lukanya masih belum sembuh.” Kata perempuan itu sambil merapikan baskom tempat obat-obatan yang baru ia oleskan di tubuh Sanina. “Kau sudah tiga hari tak sadarkan diri.”
Sanina memperhatikan tubuhnya, banyak sekali luka yang melekat. Kepalanya pun terlilit sebuah kain lembut. Kata perempuan tua tadi ia terkena reruntuhan batu di bukit saat gempa kemarin. Memang gempa seperti itu kerap terjadi, tapi rentang waktu antara dimulainya gempa dengan runtuh-runtuhnya batu biasanya agak lama sehingga sangat jarang menelan korban.
“Kau bukan orang sini, ya?” Tanya perempuan itu.
“Ya, aku dari desa.”
“Oh, begitu. Jadi apa tujuanmu ke ibukota?”
Tiba-tiba Sanina tersentak. Ia teringat lagi lelaki yang dicarinya, yang telah ia temukan sebelum akhirnya kecelakaan tadi terjadi. Dicarinya pedang yang selalu setia menemaninya, tidak ada. Lalu ia memegang pundak perempuan tua itu dan membentak.
“Di mana lelaki itu? Di mana pedangku?” Katanya. Perempuan tua tersebut hanya tersenyum tenang.
“Dia di sana. Waktu itu dialah yang menolongmu.” Kata perempuan itu menunjuk ke luar jendela.
Sanina mengintip ke arah perempuan itu menunjuk. Ada seorang lelaki bertubuh kekar dan berambut panjang membelakanginya. Ia sedang berlatih pedang. Genggaman tangan dan pijakan kakinya sangat kokoh dan Sanina yakin kalau pria itu pasti memiliki kemampuan bela diri yang tinggi. Kemudian ia berhenti berlatih dan mengikat kembali rambutnya yang mulai keluar dari ikatan lama. Lalu ia berpaling dan memandang Sanina.
“Dia ...”
“Tampan, bukan? Dia menolongmu ketika kau dihantam reruntuhan batu. Mungkin jika tidak ada dia, kau tak bernyawa lagi.”
“Tapi dia ...”
“Kau sudah sadar? Bagaimana kondisimu?” Pria tampan itu telah berada di daun jendela dan memandang Sanina dengan senyum manisnya.
“Aku hanya ingin ...”
“Sudah, tidak usah dipikirkan. Sudah menjadi tanggungjawabku untuk membantu orang yang membutuhkan.”
“Dia adalah seorang panglima kerajaan. Lihatlah, kau sangat beruntung karena sepertinya ia menyukaimu.” Bisik sang perempuan tua. Kemudian ia dengan sengaja meninggalkan Sanina berdua dengan lelaki itu.
“Sepertinya ini takdir. Aku tahu para dewa telah merencanakan pertemuan kita. Seorang perempuan lemah dan lelaki tampan yang menyelamatkannya.”
Kemudian lelaki itu melanjutkan kata-katanya dengan penuh gombalan. Sanina mengernyitkan dagunya. Ia mulai membaca jalan pembicaraan lelaki itu. Sepertinya ia sedang digoda oleh sang panglima kerajaan.
“Maukah kau menikah denganku?” Akhirnya lelaki itu mencapai poin utama seraya menyentuh pundak Sanina dengan lembut. Sanina balas memegang telapak tangannya sambil menatap dengan tajam.
“Di mana Aleon? Di mana pedangku?” Lalu Sanina memelintir telapak tangan panglima itu.
“Arrrghhh ...”
Sang panglima berteriak. Namun bukan hanya ia satu-satunya orang yang berteriak saat itu. Di luar ada suara seorang lelaki yang sedang membuat keributan. Sanina tidak terlalu memperhatikan keadaan di luar. Setelah menerjang panglima itu, ia berkeliling rumah dan mencari pedangnya, pedang warisan klan Idaga yang bahkan lebih berharga dari nyawanya.
“Ah, itu dia.” Kata Sanina setelah melihat pedangnya terpampang di kotak kaca ruang tamu.
Namun sial, saat tangannya nyaris menyentuh kotak itu, ada tangan lain yang menggenggam tangannya dan menariknya keluar dari tempat itu. Dan entah kenapa ia tidak bisa melawan.
“Aleon?” Nama itu terlontar pelan dari mulut Sanina.
“Wah, ketahuan juga. Padahal sudah pakai penutup muka.” Kata lelaki yang menarik Sanina. “Bukankah yang kau cari adalah aku? Aku tak mau karena aku kau terjebak oleh Jukashu, panglima cabul itu. Oh ya, siapa namamu?”
Sanina tak berkata apa-apa. Ia bingung ingin melakukan apa. Bahkan ketika para pengawal Jukashu mengejar dan mencoba menyerang mereka, ia hanya mengikuti perintah Aleon. Untung saja akhirnya mereka selamat.
*       *      *
“Seorang perempuan cantik? Tidak. Bahkan kambing betina pun enggan singgah ke tempat hamba.” Jawab Aleon ketika dua orang prajurit menyamperi rumahnya.
“Benar juga. Ya sudah kalau begitu.”
“Memangnya apa yang sudah ia lakukan?”
“Gadis itu membunuh beberapa prajurit tanpa alasan. Ia juga diduga yang menyerang Panglima Jukashu.”
“Panglima Jukashu? Memang kenapa dengannya hingga dihajar seorang perempuan?”
“Entahlah, mungkin ia sedang sial, menggoda perempuan yang salah.”
Lalu terjadi percakapan penuh tawa. Sanina memandang percakapan itu dari tempat tersembunyi dengan keheranan. Tanpa sengaja tangannya menyentuh secarik kertas. Betapa terkejutnya Sanina melihat gambar yang mirip dirinya dengan pose anggun dan senyum manis di wajahnya. Setelah para prajurit itu pergi, Sanina segera meletakkan kertas itu kembali.
“Mereka adalah teman kecilku.” Kata Aleon. “Sepertinya kau membuat keributan yang besar.”
“Aku harus menjemput pedangku di rumah lelaki cabul itu.”
Pedang itu ia butuhkan untuk membunuh Aleon, pedang yang telah membunuh banyak klan Ruzy.
“Ia pasti akan mempersiapkan penjagaan luar biasa, khususnya atas pedang itu.” Aleon menggenggam tangan Sanina. “Aku tahu pedang itu sangat berarti bagimu, tapi aku takkan membiarkanmu kembali ke sana.”
“Ka, kau ...”
“Aku telah mendengar kabar yang menimpa seluruh keluargaku.” Aleon duduk dan menundukkan kepalanya. “Kita punya alasan yang sama besar untuk mendendam.”
Sanina terdiam. Ia memandang Aleon lagi dengan penuh tanya. Apakah ia tahu identitas aslinya? Mengapa setelah mengetahuinya ia masih bisa tenang, bahkan berusaha melindunginya? Apakah ia juga mengharapkan pertarungan satu lawan satu seperti dirinya? Sanina bersiap memasang kuda-kuda untuk mengantisipasi serangan mendadak.
“Ya, aku ...”
“Pak Dipa sudah kuanggap sebagai ayahku sendiri. Kesedihanku untuknya juga sama besarnya dengan kesedihanku untuk kematian keluargaku.”
Sanina tak mengerti dengan apa yang dikatakan Aleon. Namun ia tak berani bertanya. Ia memilih diam dan membaca situasi. Kemudian Aleon mendekat dan memegang tangannya. Tidak sampai di sana, ia menciumnya juga.
“Tapi untuk apa kita hidup dengan dendam? Kapan hidup kita akan damai jika kita memelihara amarah itu? Maafkan saja para pembunuh keluarga kita. Ada yang lebih penting dari membalas dendam.”
“A,apa itu?” Tanya Sanina.
“Mencintai seseorang.”
Aleon beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Sanina yang masih tertegun dengan perkataan pria itu. Sebuah pukulan yang sangat telak diterima Sanina, tanpa ada kontak fisik sedikitpun. Ia memandang Aleon dengan lekat. Pria itu berjalan ke arah sebuah benda besar dan membuka kain penutupnya. Ternyata batu yang besar. Ada alur-alur rapi seperti sketsa sebuah bentuk yang pernah ia lihat.
“Untuk apa itu?”
“Oh, ini. Aku ingin membuat patung untuk diikutkan dalam sayembara.”
“Sayembara?”
“Sayembara untuk mencari pemahat dan pematung candi yang akan dibangun kerajaan. Bukan hanya itu, yang lolos akan direkrut menjadi pematung kerajaan untuk seterusnya.”
Sanina memandang aneh Aleon. Jujur, dari lubuk hatinya ia kecewa menjumpai satu-satunya musuh klannya jauh dari perkiraannya selama ini. Ia bukanlah orang yang memiliki gairah bertarung. Bahkan hanya seorang lelaki lemah yang bahagia dengan hidup tanpa tantangan.
“Kau ingin sekali jadi pematung kerajaan?”
“Tentu saja. Aku telah mengirim rancangan patungku dan kudengar menteri suka.” Jawab Aleon. “Lagipula aku punya rahasia.”
“Apa?”
“Ini rahasianya,” Kata Aleon sambil membuka sebuah ember besar dan mencedok cairan dari dalamnya. “Sment. Dengan balutan cairan ini, permukaan patung akan menjadi halus dan indah.”
“Benarkah?” Sanina penasaran dan mencoba menyentuhnya.
“Jangan!” Aleon menepis tangan Sanina dari Sment. “Jangan sentuh cairan ini. Jika terkena, tanganmu akan mengeras selamanya seperti patung.
Sanina menarik tangannya dari cairan itu. Aleon menutupnya dan mulai bekerja. Ada pertanyaan besar yang bergelayutan di benak Sanina sekarang.
“Ayahmu adalah pendekar besar. Bukankah seharusnya kau menjadi tentara kerajaan?”
“Ayahku membebaskanku melakukan apa yang kuimpikan. Inilah mimpiku, menjadi pematung kerajaan. Lagipula aku tak terlalu suka dengan ilmu bela diri.”
“Jadi bagaimana dengan perseteruan dengan klan Idaga? Bagaimana jika orang-orang dari klan Idaga menyerangmu?” Aleon hanya tersenyum mendengar pertanyaan-pertanyaan itu.
“Aku ingin menjadi generasi pertama yang menghentikan perseteruan itu.”
“Bodoh, kau mempermalukan leluhurmu.”
“Aku tak berjuang untuk orang yang telah mati. Aku berjuang untuk orang-orang yang hidup dan yang akan hidup setelahku. Aku ingin menjamin kedamaian bagi mereka.”
Kemudian Aleon mulai memahat batu tersebut. Sanina hanya menatap pekerjaan Aleon sambil merenungkan semua yang diucapkannya. Tangan lelaki itu sangat lincah seakan tak ada kejanggalan. Lalu Sanina terperanjat demi dilihatnya bentuk itu semakin jelas. Bentuk seorang gadis yang ada di kertas tadi, yang mirip dengannya. Semakin lama batu itu semakin jelas membentuk rupa seperti dirinya. Namun Aleon berhenti ketika hanya tinggal bibir yang belum terpahat. Ia berpaling dan memandang wajah Sanina dengan lekat.
“Kenapa berhenti?” Tanya Sanina.
“Aku belum bisa. Mungkin dengan membayangkannya aku bisa membuat senyummu. Tapi aku yakin, senyummu lebih indah dari yang bisa kubayangkan.”
Kata-kata itu seperti sebuah sengatan untuk hati dan pikiran Sanina. Kata-kata yang menyentuh hatinya. Tak ada seorangpun yang pernah mengatakan hal seperti itu untuknya, pembunuh andal penerus klan Idaga yang terkenal itu. Apalagi seseorang yang membuat sebuah patung indah dirinya tanpa diperintah.
“Tersenyumlah. Bantu aku menyempurnakan patung ini.”
Sanina tak menjawab. Ia melihat lelaki itu, lelaki yang beberapa hari yang lalu ingin dibunuhnya, lelaki yang menatapnya lekat meski bebatuan runtuh, lelaki yang nekat mendatangi rumah seorang panglima hanya untuk menjemputnya, lelaki yang lebih memilih mengejar mimpi dibandingkan dengan menuntaskan dendam warisan, lelaki yang begitu memperhatikannya hingga mampu menghasilkan sebuah patung.
Dan Sanina pun tersenyum.
“Sempurna!”
Aleon sangat semangat melihat pemandangan di depannya.  Kemudian ia memainkan pemahatnya dan mulai membentuk sunggingan senyum di patung itu, senyum yang menyempurnakan karyanya.
“Asal Nona tahu, di patung inilah tersimpan semua impianku.” Kata Aleon penuh semangat. Sanina hanya memandang. Ada pertanyaan yang tersimpan di hatinya.
“Aleon.”
“Ya.” Sahut Aleon yang masih serius dengan pekerjaannya.
“Sanina.” Aleon menatap heran, tak mengerti maksud perkataan gadis itu. “Bukankah kau telah dua kali menanyakan namaku?”
“Oh, iya.” Lelaki itu melanjutkan pekerjaannya. “Nama yang indah. Kalau tak salah artinya ...”
“Sanina Idaga.”
Aleon terkejut mendengar nama itu. Tangannya ceroboh memahat titik yang salah sehingga retak, bahkan retak itu menjalar merusak patung. Aleon menjatuhkan palunya dan kakinya lemas hingga ia berlutut ke tanah. Tangannya mengepal erat dan kemudian direnggangkannya kembali.
“Sial.” Aleon mengambil Sment dan melumurinya keseluruh patung. “Tak bisa sempurna lagi.”
Sanina memandang punggung pemuda itu. Ia sedih, sangat sedih mendapati kekecewaan yang teraut di wajahnya. Seberapa kuatnya filosofi Aleon tentang dendam dan pengampunan, pasti ia takkan kuat menghadapi pembunuh seluruh keluarganya. Namun ia masih hebat untuk menutupinya.
“Kutukilah aku. Akulah yang membunuh seluruh keluargamu. Dan tujuanku menemuimu hanyalah untuk bertarung dan menentukan akhir dari perseteruan klan kita.”
Tak ada jawaban. Aleon masih serius mengurus patungnya. Ia mengangkat patung tersebut ke atas sebuah gerobak dan menutupinya dengan kain. Lalu setelah mengelap tangannya, ia menghampiri Sanina.
“Aku mengutuki patung itu, bukan kamu. Hhah, harusnya aku tahu kalau aku takkan bisa ” Aleon membelai pipi Sanina dan tersenyum. kemudian ia berjalan ke sebuah kursi dan membaringkan tubuhnya. “Kalau memang itu yang kau butuhkan, silahkan bunuh aku. Impianku telah hancur, hidup dan mati bagiku sama saja.”
Sanina tak bergeming. Kemudian ia menangis dan tertunduk. Perhatiannya teralih pada sebuah kertas yang tersentuh tangannya, sketsa patung rancangan Aleon. Ada tulisan di belakang kertas tersebut. Tangisannya semakin kencang dan airmata yang keluar semakin deras. Ia memeluk kertas itu, sangat erat.
*       *      *
“Aleon! Aleon!” Teriak seorang pria. “Di mana patungnya? Sayembara akan dimulai sebentar lagi.”
“Di sana. Bawa saja. Aku sudah meletakkannya di atas gerobak.” Kata Aleon menunjuk patung yang tertutup kain. Ia masih nyenyak di pembaringannya.
“Kau tak ikut?”
“Kepalaku sakit.” Dan Aleon memejamkan matanya kembali.
Kemudian ia teringat pada Sanina dan langsung terduduk. Diperiksanya sekujur tubuhnya, tak ada luka. Sepertinya Sanina tidak jadi membunuhnya. Ia berjalan mencari gadis itu. Tidak ada. Ke mana gadis itu pergi? Apakah ia akan kembali?
Matanya terpaku pada secarik kertas, sketsa patungnya. Ia menatap gambar itu dan membelainya. Bayangan kecantikan Sanina kembali lagi menghampirinya. Ia teringat pada kalimat yang ia tulis di belakang gambar.
Kau adalah mimpi dan cintaku. Aku akan melakukan apa saja untuk mencapaimu. Sayang, kau telah pergi.”
Ia terkejut melihat sebuah kalimat tertulis di bawahnya: Aku takkan membiarkanmu menyerah untuk menggapainya. “Siapa yang menulis?”
Lalu kakinya menendang bongkahan batu. Ia memandang lama, mencoba menganalisa bekas bongkahan apa ini. Tiba-tiba wajahnya memucat dan segera berlari ke arah alun-alun istana tempat berlangsungnya sayembara.
“Bodoh, maksudku adalah kamu. Kamu!! Itu kamu!! Bukan yang lain, bukan patung.”
Aleon masih berlari sambil mengoceh. Ia tak peduli dengan tatapan heran orang padanya. Ia juga tak peduli kakinya terluka karena tak menggunakan alas kaki. Ia pun tak peduli meski nafasnya hampir habis. Dan setelah tiba di alun-alun istana, ia terjatuh. Airmatanya berderai dan ia menjerit. Walau keramaian menutupinya, ia tetap menjerit.
“Sanina, maksudku adalah kamu!”
Sebuah patung gadis cantik berdiri di tengah keramaian dengan anggunnya, menarik perhatian hampir semua yang ada di sana. Pujian demi pujian meluncur untuk karya indah tersebut. Patung indah yang tanpa cacat dan halus karena lumuran sment. Di bawahnya terpampang nama Aleon sebagai pembuat.

1 komentar: