Welcome Myspace Comments

Jumat, 24 Februari 2012

Dongeng Lintas Benua

(Sumber: Bonus Renungan SPIRIT JUNIOR Edisi Februari 2012)

Kasih Persaudaraan Sejati (Dari Korea)
Dahulu kala, hiduplah dua kaka beradik di sebuah desa. Mereka berdua sama-sama hidup dengan sangat sederhana. Keduanya bekerja sebagai petani, menggarap sawahnya masing-masing
Sang kakak memiliki sawah yang sedikit lebih luas dari adiknya. Hasil panennya agak lebih banyak dari hasil panen adiknya. Namun ia juga memiliki lebih banyak anak yang harus diberi makan.
Suatu hari, mereka berdua sama-sama memanen padi. Sang kakak mengkhawatirkan adiknya, “Jangan-jangan padi adikku tidak cukup untuk hidupnya sehari-hari.” Maka saat malam hari, diam-diam ia menyelinap ke lumbung adiknya dan menaruh seikat padi di sana. Demikian dilakukan sang kakak setiap malam.
Tetapi anehnya, beras dalam lumbung sang kakak tidak juga berkurang. Jumlah padi dalam lumbungnya masih terus sama meskipun setiap malam disisihkannya. “Aneh sekali!” Demikian pikirnya. Akhirnya, keanehan itu terjawab.

Suatu malam, sehabis dari lumbung adiknya, sang kakak memergoki adiknya sedang mengendap-endap masuk ke lumbung kakaknya. Rupanya selama ini adiknya pun melakukan hal yang sama kepada kakaknya. Secara diam-diam, mereka saling menolong dan saling memperhatikan. Itulah sebabnya dalam lumbung mereka tetap utuh selama ini. Betapa indahnya kasih persaudaraan sejati.

Pria Tua dan Ikan Emas (Dari China)
Ada seorang pria tua yang suka memancing. Suatu hari, ia hendak memancing ikan di danau untuk makan malamnya. Cuaca cerah dan angin sepoi-sepoi membuatnya duduk terkantuk-kantuk dalam perahu. Sambil menunggu pancingnya mendapat tangkapan, kakek itu tertidur.
Tiba-tiba ia terkejut oleh hentakan keras pada pancingnya. Segera ditariknya kail itu ke dalam perahu. Seekor ikan berwarna emas meronta-ronta. Betapa terkejutnya pria itu karena ternyata ikan itu bisa bicara. “Tolong lepaskan aku, Pak Tua ...” “Enak saja, kau tidak akan kulepaskan karena kau akan kujadikan lauk makan malamku.” Sahut Pak Tua itu masih dengan terkejut.
“Jika kau melepaskanku, aku akan memberimu hadiah seutas tali emas.” Sahut ikan itu lagi. “Tali emas? Tunjukkan dulu kepadaku tali emas itu, baru aku percaya.” Tukas Pak Tua. “Lemparkanlah pancingmu ke danau kembali, setelah itu kau akan mendapatkan tali emas itu.” Jawab si ikan ajaib.
Pria tua itu melakukan seperti kata-kata si ikan emas. Setelah ia melemparkan pancingnya ke danau dan menariknya kembali, nampaklah seutas tali tambang besar terbuat dari emas tersangkut pada kailnya. Ia lalu menarik tali itu sekuat tenaga. “Wah, betapa beratnya tali ini. Tali ini pasti sangat panjang! Aku bahkan tak bisa melihat ujungnya.” Betapa gembiranya laki-laki tua itu membayangkan dirinya mendadak jadi kaya raya.
“Sekarang lepaskanlah aku karena engkau sudah mendapatkan tali emasmu.” Si Ikan mengingatkan Pak Tua pada janjinya. “Hm, saying sekali kalau aku kehilangan ikan ajaib seperti dirimu. Aku tidak akan melepaskanmu. Kau akan kujual ke pedagang dengan harga yang sangat mahal.” Pria tua itu lalu memasukkan ikan malang itu ke dalam ember, lalu kembali menarik tali emas ke dalam perahu.
Selagi pria serakah itu terus menarik tali, tanpa disadari perahunya kian tenggelam. Tali emas yang ditariknya tak juga nampak ujungnya. Akhirnya, pria itu pun tenggelam di tengah danau karena keserakahannya.

Tiga Permintaan (Dari Inggris)
Suatu ketika, hiduplah seorang tukang kayu miskin dan istrinya di tepi hutan. Si tukang kayu setiap hari mencari kayu bakar dengan menebang pohon di dalam hutan.
Suatu hari, saat hendak menebang pohon, tiba-tiba terdengar suara yang menyayat hati. “Tolong jangan tebang aku ...” Rupanya pohon yang hendak ditebangnya itu yang berbicara. Si tukang kayu merasa takjub juga iba. Ia lalu membatalkan niatnya menebang pohon itu. Diletakkannya kembali kapaknya yang hampir terayun.
“Terima kasih, Pak Tua ... Karena kemurahan hatimu, aku akan mengabulkan tiga keinginanmu.” Pak Tua tersenyum sambil mengemasi peralatannya. Ia pun pulang ke rumah tanpa membawa kayu hari itu.
Sesampainya di rumah, sambil mengelap keringatnya, si tukang kayu bertanya kepada istrinya, “Masak apa hari ini, Bu?” Perutnya sudah lapar minta diisi meskipun sebenarnya belum waktunya makan malam. “Makan malam belum siap, Pak.” Jawab istrinya dari dapur.
“Ah, padahal aku ingin sekali makan pudding coklat.” Katanya menggerutu. Tiba-tiba, dalam sekejap mata, terhidang sepiring pudding coklat di atas meja. Si tukang kayu dan istrinya terperanjat. “Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, Pak? Hal aneh apa yang kau alami hari ini?” tanyanya pada suaminya.
Si tukang kayu teringat pengalamannya tadi siang. Ia lalu menceritakan semuanya kepada istrinya. Setelah mendengarkan penuturan suaminya, betapa marahnya istri si tukang kayu, “Ya ampun... betapa bodohnya kau, Pak Tua... Kenapa ada kesempatan berharga seperti itu, kau malah meminta pudding! Dasar kau rakus. Yang ada di pikiranmu Cuma makananmu saja! Kuharap pudding itu ada di hidungmu sekarang.”
Tiba-tiba, saat istrinya tengah mengomel, hidung si tukang kayu menjadi sangat besar. Pudding itu telah berada dalam hidungnya! Olala... kedua suami istri itu menjadi kalang kabut. Sang istri berusaha membantu suaminya menarik pudding itu keluar dari hidungnya. Tapi segala usaha mereka sia-sia saja.
Akhirnya, setelah berjam-jam usaha mereka gagal, dengan terpaksa mereka mengucapkan permintaan terakhir, yaitu agar pudding itu keluar dari hidung si tukang kayu. Tiga kesempatan terbuang percuma. Mereka sebenarnya bisa saja mendapatkan emas, rumah indah, atau hal-hal besar lainnya. Jika saja mereka menggunakan kesempatan itu baik-baik.

Jas Merah dan Jas Biru (Dari Afrika)
Ada dua orang anak yang bersahabat sejak kecil. Mereka berjandi akan terus bersahabat hingga tua nanti. Ketika mereka makin dewasa, mereka bahkan membangun rumah berhadap-hadapan.
Suatu hari, seorang penipu dari sebuah desa, bermaksud mempermainkan mereka dan mengadu domba kedua sahabat itu, ia membuat sebuah jas dua warna. Satu sisi berwarna merah dan sisi lainnya berwarna biru.
Penipu itu lalu mengenakan jas itu, kemudian ia lewat di jalan depan rumah kedua sahabat itu. Keduanya sedang berkebun di depan rumahnya masing-masing. Si penipu sengaja terbatuk-batuk dengan suara keras agar kedua sahabat karib itu memerhatikan dirinya saat ia lewat.
Salah seorang berkata, “Bagus sekali jas merah yang dikenakan pria asing tadi, ya, kawan?”
“Lho, kok merah sih. Proa yang lewat dari itu mengenakan jas biru.” Sahut temannya.
“Aku tadi jelas-jelas melihat saat ia lewat di depan kita. Jasnya berwarna merah!” Ujar yang pertama.
“Kau sudah salah lihat. Jasnya jelas-jelas berwarna biru.” Tukas temannya mulai kesal.
“Kamu itu yang salah. Jas tadi itu warnanya merah!”
Akhirnya mereka berdua berdebat sengit perihal warna jas tadi. Mereka terus berdebat, lalu saling mengejek. Ujung-ujungnya, pertengkaran mulut berubah menjadi perkelahian sengit. Mereka lalu saling memukul. Dan bergulat di jalan.
Sesaat kemudian, si penipu tadi kembali menemui kedua sahabat yang sedang saling meninju dan menendang sambil berseru, “Persahabatan kita berakhir!” “Aku juga tak sudi jadi temanmu lagi.”
Si penipu berjalan melewati mereka dan menunjukkan jasnya yang separuh berwarna merah dan separuh biru. Dia menertawakan kebodohan kedua sahabat itu, kedua sahabat itu terperangah menyadari hal itu. Mereka lalu berseru kepada si penipu, “Kami sudah bersahabat bertahun-tahun dan hidup bersama seperti saudara. Ini semu salahmu sampai kami bertengkar. Kau yang telah menyulut peperangan di antara kami.”
“Jangan salahkan aku gara-gara pertengkaranmu,” jawab si penipu. “Aku tidak membuat kalian bertengkar. Kalian berdua sama-sama salah dan juga sama-sama benar. Hanya saja kalian bertengkar karena masing-masing hanya melihat jasku dari sudut pandang sendiri-sendiri.” Barulah kedua sahabat itu menyadari bahwa untuk menjaga persahabatan, haruslah belajar memahami sudut pandang orang lain juga.

Pengemis dan Si Kikir (Dari Asia)
Seorang penemis tua lewat sebuah desa. Ia mengetuk pintu sebuah rumah mewah. Di rumah itu tinggallah seorang pria kikir. Semua penduduk desa mengenalnya sebagai orang yang tak pernah mau menolong orang lain meskipun ia kaya raya.
“Tolong berilah saya sedikit daging atau susu...” Pinta pengemis itu padanya. Si Kikir menjawab dengan kasar. “Tidak. Tidak bisa. Pergi kau!”
“Kalau begitu, bisakah kau memberiku sedikit gandum atau sayuran?” Tanya pengemis itu. Karena perutnya begitu lapar, ia memberanikan diri meminta lagi. “Tidak ada!” Sahut Si Kikir ketus.
“Kalau begitu, bisakah kau memberiku sepotong roti. Aku akan sangat berterima kasih.” Lanjut Si Pengemis lagi.
“Pergi sana! Aku tidak punya roti.” Jawab Si Kikir.
“Setidaknya, bisakah aku minta air? Aku sangat haus.”
“Aku juga tidak punya air!!!” Teriak Si Kikir dengan jengkel.
“Nak, kenapa kau hanya duduk-duduk saja di rumah ini? Berdirilah dan pergilah mengemis makanan pada orang baik. Siapa tahu kau mendapat makanan. Kau tidak punya apa-apa. Kau bahkan lebih miskin daripada aku.” Sindir pengemis itu sambil berlalu.

Kisah Dua Ekor Katak (Dari Rusia)
Dua ekor katak hidup bersama di sebuah kolam. Mereka berdua kakak beradik, namun perangainya berbeda. Sang kakak adalah katak yang sangat malas. Ia hanya suka berjemur di atas daun teratai sambil terkantuk-kantuk menunggu mangsa yang lewat. Ia hanya makan serangga yang kebetulan lewat di dekatnya saja. Itu dilakukannya karena ia malas bergerak. Ia tidak mau repot-repot mencari makan seperti adiknya.
Sang adik, sikapnya kebalikan dari kakaknya. Ia sangat lincah dan rajin. Ia suka berenang mengitari kolam sambil mencari serangga. Kadang kala ia bahkan keluar dari kolam itu, dan masuk ke gudang untuk melihat-lihat. Di dalam gudang, ternyata ada banyak sekali nyamuk, lalat, dan serangga-serangga yang bisa dinikmatinya.
Karena perbedaan sikap itulah, tubuh sang kakak Nampak gendut dan lamban sedangkan adiknya selalu Nampak gesit dan kuat.
Suatu hari, di hari yang panas terik, si adik mengajak kakaknya menangkap nyamuk di gudang. Meskipun sebenarnya enggan, tapi karena bosan dengan pemandangan sekelilingnya, akhirnya sang kakak pun ikut.
Di dalam gudang itu, mereka menangkap banyak nyamuk. Melompat ke sana kemari dengan gembira. Tiba-tiba nampaklah seember susu sapi. Kedua katak itu tak tahu cairan apakah yang ada di dalam ember tersebut.
Untuk mencari tahu jawabannya, kedua katak itu pun akhirnya melompat masuk ke dalam ember. Olalal... tenryata cairan itu tak seperti yang mereka duga. Cairan putih itu sedikit lebih kental dan lebih licin daripada air. Mereka pun berusaha melompat keluar dari dalam ember. Namun, karena licinnya susu yang menempel di kaki mereka, tiap kali merangkak di tepi ember mereka meluncur jatuh kembali.
Berkali-kali usaha mereka dilakukan, namun tak juga berhasil. Karena capek, sang kakak akhirnya memutuskan untuk menyerah. Ia mengambang di atas susu itu, sedangkan sang adik, ia tetap berusaha merangkak naik. Kakinya terus menendang dan menendang. Meskipun sangat lelah, ia berkata, “Aku tidak akan menyerah. Aku akan terus menendang sampai tenagaku benar-benar habis.”
Beberapa jam kemudian, tanpa disadarinya, cairan susu itu makin mengental dan mengental. Rupanya karena gerakan kaki si katak yang terus menerus, cairan susu itu berubah menjadi krim kental. Kedua katak itu akhirnya bisa selamat keluar dari ember. Itu semua karena sikap si katak bungsu yang tak kenal menyerah! Sika ada kesulitan dan masalah yang harus kita hadapi, jangan pernah menyerah! Karena selalu ada jalan keluar bagi siapa saja yang pantang menyerah.

Keledai yang Malas (Dari Arab)
Suatu hari, seekor keledai dan seekor kerbau sedang bercakap-cakap. “Aku lelah sekali. Setiap hari aku membajak sawah dari pagi sampai sore. Betapa enaknya menjadi dirimu, wahai Keledai.” Kata Si Kerbau. “Ha ha ha... salahmu sendiri kenapa kamu selalu begitu rajin. Kalau aku, tiap hari kerjaanku Cuma makan dan tidur-tiduran saja.” Jawab keledai pemalas itu.
Tanpa mereka ketahui, Pak Tani diam-diam ikut mendengarkan pembicaraan mereka. “Wah, andai aku jadi dirimu, Keledai. Aku pasti senang sekali.” Sahut kerbau dengan sedih. “Ah, itu sih gampang. Semua itu ada caranya. Kalau besok Pak Tani hendak mengajakmu membajak sawah, berpura-puralah sakit. Pasti kau juga akan bebas tugas.” Nasihat Si Keledai pada Si Kerbau.
“Wah, bagus juga, ya idemu itu. Besok akan kucoba.” Jawab kerbau sambil berterima kasih. Keledai yang pemalas rupanya berhasil member pengaruh buruk pada si kerbau.
Keesokan harinya, pagi-pagi benar, Pak Tani menghampiri kandang kerbau hendak mengajaknya membajak sawah. Namun Si Kerbau Nampak loyo. Pak Tani sebenarnya tahu bahwa Si Kerbau hanya berpura-pura, namun ia hendak member pelajaran kepada keledai si pemalas.
Ia lalu mendatangi keledai dan berkata, “Kawanmu Si Kerbau sedang sakit. Nah, sekarang kau kuberi tugas menggantikannya membajak sawah.” Ia lalu mengalungkan bajak yang berat itu untuk ditarik Si Keledai.
Sepanjang hari keledai menggantikan tugas si kerbau sementara kerbau gentian enak-enakan makan dan tidur di kandangnya. Tentu saja tubuh keledai tidaklah sekuat kerbau. Ia hamper-hampir jatuh pingsan karena menarik bajak itu.
Sore harinya, mereka berdua Nampak mengobrol lagi. “Hari ini tidur siangku sangat nyenyak. Aku rasa, besok aku akan pura-pura sakit lagi supaya aku tidur-tiduran lagi.”
“Oh, sebaiknya jangan, Kawan... Kudengar Pak Tani berkata kalau sampai besok kau masih sakit juga, engkau akan dijual ke tukang daging untuk disembelih.” Jawab Keledai. Mendengar itu, Si Kerbau menjadi takut.
Keesokan harinya, ia pun tidak mencari alasan untuk menghindari tugasnya lagi. Sedangkan keledainya, kini ia tak berani malas lagi. Ia pun tak berani memberi nasihat yang menyesatkan kawannya lagi.

Janji yang Diingkari (Dari Jepang)
Dahulu kala, beberapa anak sedang bermain di tepi pantai. Mereka lalu mempermainkan kura-kua itu, memukul, dan menggulingkannya ke sana kemari. Beberapa saat kemudian, seorang pemuda yang sedang lewat melihat kenakalan anak-anak itu. “Hey, berhenti! Apa yang kalian lakukan? Kalian menyiksa hewan malang itu!” Gerombolan anak-anak itu kemudian melarikan diri.
“Terima kasih atas pertolonganmu, Anak Muda. Aku ingin mengundangmu ke istanaku yang indah.” Kata Si Kura-kura. Pemuda itu lalu naik ke punggung kura-kura. Ia dibawa ke sebuah istana rahasia di dalam laut. Istana itu benar-benar sangat indah. Pemuda itu disambut oleh raja kura-kura dan dijamu dengan hidangan yang lezat dan enak.
Ia pun berterima kasih kepada kura-kura. “Belum pernah aku mengunjungi tempat seindah ini. Aku senang telah bertemu denganmu.” Ketika ia hendak berpamitan, Si Kura-kura memberinya hadiah. “Aku memberimu dua kotak sebagai hadiah. Tapi ingat, kau hanya boleh membuka satu kotak saja. Jangan sekali-kali membuka keduanya!”
“Baiklah. Aku akan membuka satu kotak saja.” Janji pemuda itu kepada Kura-kura. Si Pemuda pun diantar pulang sampai ke tepi pantai. Ia lalu berlari pulang dengan riang gembira.
Sesampainya di rumah, ia membuka kotak yang lebih besar. Di dalamnya penuh berisi emas dan permata. “Wow! Aku kaya sekarang!” Ia lalu melirik ke kotak yang satunya. “Mungkin saja yang ini isinya penuh dengan uang.” Pikirnya. Dia tak dapat menahan keinginannya untuk membuka kotak yang satu lagi. Maka diingkarinya janjinya kepada kura-kura. Ia lalu membuka kotak itu.
Segera setelah kotakitu dibuka, si pemuda berubah menjadi tua. Rambutnya menjadi putih, wajahnya penuh keriput. Dia telah berubah seperti seorang kakek berumur 80 tahun. Semua terjadi dalam sekejap mata. Pemuda itu sangat menyesali kebodohannya. Namun semua sudah terlambat. “Andai saja aku tak ingkar janji...” Ratapnya.

1 komentar:

  1. Slots - Casino - Hendon Mob | JamBase
    Check out Slots 파주 출장샵 - Casino - Hendon Mob, 아산 출장마사지 the music venue located in Las 여수 출장샵 Vegas, Nevada. 서울특별 출장마사지 Get tickets and tour online. 목포 출장안마

    BalasHapus